Senin, 07 Mei 2012

Belajar Sabar

Saat ini, di Jepang sedang musim panas. Suhu udara rata-rata, baik di siang maupun malam hari hampir selalu diatas 30 derajat celcius, bahkan kadang mencapai angka antara 36 hingga 40 derajat. Terik matahari begitu menyengat, memanggang kulit hingga mengubah warna jadi kecoklatan.

Saat-saat demikian, menjadi ujian tersendiri bagi saya sebagai seorang muslimah yang ingin selalu mempertahankan diri tampil dengan busana yang rapat membalut seluruh tubuh. Model busana yang dianggap melawan arus oleh kebanyakan orang Jepang, hingga membuat aneka pertanyaan hinggap ketika kami saling bertemu. "Atsu kunai desuka?" (apa tidak panas?), "Kenapa pakai pakaian seperti ini?" dan sebagainya.

Di sisi lain, penampilan wanita yang serba buka-bukaan di mana saja, menjadi polusi yang membuat mata ini terasa nyeri. Timbul rasa malu karena seolah melihat diri sendiri dalam keadaan minim busana, serta kegundahan hati yang begitu dalam karena tak mampu menjadi pengingat bagi mereka. Kaum adam pun harus menundukkan pandangan lebih dalam, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, karena melihat lawan jenis dengan pakaian yang benar-benar minim, bertebaran di seluruh kawasan.

Dalam kondisi seperti inilah, pelajaran bersabar dalam menunaikan ketaatan pada-Nya, dan bersabar dalam menghindari maksiat terasa memiliki nilai lebih dari hari-hari biasa, karena tantangannya lebih berat dan lebih beragam.

Di samping hal-hal di atas, musim panas juga merupakan sarana latihan khusus untuk tetap taat pada perintah-perintah-Nya, bagi kaum mukmin. Malam yang pendek dan siang yang panjang, mengubah ritme kehidupan dan jadwal ibadah. Sementara, waktu tidur tidak bisa digeser lebih awal, supaya tidak kesiangan bangun salat subuh, karena jadwal kerja tetap seperti hari-hari biasa, yang rata-rata baru pulang di atas jam sembilan malam.

Bila di Indonesia kita bisa mengatur waktu secara rutin sesuai dengan waktu-waktu salat yang hampir selalu tetap, maka di musim panas hal ini sulit untuk dilakukan. Jarak waktu antara salat subuh dan zuhur begitu panjang, sementara jarak waktu antara sholat isya' dan sholat subuh cukup pendek. Seperti yang saat ini terjadi, salat subuh sudah masuk waktu pada jam 03.04, zuhur jam 12.03, asar jam 15.50, maghrib jam 19.17, dan isya' jam 20.56.

Bila kita puasa, maka kita harus menahan haus dan lapar selama 16 jam lebih, di tengah suasana panas yang membuat tenggorokan kering dan melahirkan rasa haus. Di sinilah salah satu bentuk ketaatan seorang mukmin kepada Allah SWT teruji. Akan mampukah kita mengendalikan hawa nafsu, memenej jiwa dan raga agar tetap taat pada-Nya, atau sebaliknya. Saya sendiri pernah melihat, beberapa wanita muslim yang tadinya berbusana muslimah, mengurangi ukuran bajunya dan melonggarkan kerudungnya, atau bahkan lepas sama sekali karena merasa terlalu panas. Adapula seorang kawan yang bercerita, "Siapa yang mau bangun subuh jam tiga pagi, orang baru tidur sebentar." Na'udzubillahi min dzaalik.

Demikianlah, musim panas memang menjadi sarana belajar bersabar bagi kita. Sabar dalam menunaikan ketaatan, dan sabar dalam menghindari maksiat kepada-Nya.

Sungguh benar firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: ."..Yaa Rabbanaa, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imron: 191).

Rabbanaa, afrigh 'alainaa sabran Wat tawaffanaa, muslimiin.

Yaa Rabbanaa, karuniakanlah kesabaran kepada kami,
Dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.
Aamiin, yaa Rabbal 'aalamiin.

Wallohu a'lam bishshowwab.

Ummu Shofi


www.eramuslim.com